Bahasa Madura

√ Kenali Bahasa Madura, Sastra dan Carakannya Update 2020

Bahasa Madura – Asimilasi dan kulturasi budaya telah memberikan corak bahasa di setiap daerah. Setidaknya terdapat 652 bahasa daerah yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia.

Salah satunya adalah bahasa Madura. Bahasa ini bisa kita temui di pulau Madura yang letaknya bersebrangan dengan provinsi Jawa Timur.

Bahasa ini digunakan oleh 14 juta penduduk suku Madura yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Akar bahasa ini adalah bahasa Melayu dengan campuran bahasa Jawa, bahasa Bugis, bahasa Cina dan bahasa Arab.

Tidak semua wilayah pulau Madura menggunakan bahasa daerah Madura. Di pulau Kangean Madura contohnya, mereka tetap menggunakan bahasa Kangean.

Kosakata bahasa Madura

Kosakata bahasa ini merupakan cabang dari bahasa Austronesia (Melayu-Polinesia). Inilah mengapa bahasa ini tekesan mirip dengan banyak bahasa di Indonesia.

Banyaknya pengaruh bahasa yang masuk tidak mengalahkan bahasa Jawa sebagai dominasi bahasa suku asli Madura. Ini karena pulau Madura masuk dalam jajahan wilayah kerajaan Mataram.

Sistem pengucapan yang unik pada bahasa daerah Madura membuat orang luar sulit utnuk mengucapkannya. Tidak hanya sekedar mengulang suku kata terakhir suatu kata seperti te sate. Kerap kali bahasa daerah Madura di publikasikan dengan ucapan kalimat yang membingungkan oleh awam.

Setidaknya terdapat penekanan pada huruf b, d, j, g, bh, dh dan jh atau pada huruf bb, dd dan jj. Suku Madura juga menggunakan sistem vokal a schwa. Selain itu normal seperti biasa menggunakan sistem vokal i, u, e dan o.

Sama halnya seperti bahasa Jawa, bahasa daerah Madura ini memiliki tingkatan. Tingkatan pertama adalah ngoko, pengucapan bahasa yang tidak formal dan biasanya digunakan untuk percakapan sehari-hari.

Pada tingkatan ini umumnya digunakan untuk orang yang memiliki usia sebaya atau di bawahnya. Contoh bahasa dalam tingkatan ini adalah kata enje’ yang artinya iya.

Kedua adalah madya. Tingkatan madya ini lebih halus dari tingkatan bahasa ngoko. Biasa digunakan oleh orang yang lebih muda ke yang lebih tua. Seperti percakapan anak ke orang tua atau anak ke guru mereka. Contohnya adalah engghi-enten.

Ketiga adalah krama. Jika dalam bahasa Jawa tingkatan krama berada di pertengahan maka dalam bahasa Madura krama menduduki tingkatan atas.

Tingkatan ini adalah tingkatan bahasa yang sangat halus, formal dan sopan yang biasa digunakan orang yang lebih muda terhadap kakek, nenek, buyut atau sesepuh mereka. Contohnya adalah engghi-bhunten.

Baca Juga : Bahasa Jawa

Dialek bahasa Madura

Bahasa Madura
Bahasa Madura

Dialek bahasa asli pulau Madura ini memiliki dialek khas pada setiap wilayah. Beberapa diantaranya adalah dialek Bangkalan, dialek Sumenep, dialek Sampang, dialek Pamengkasan dan dialek Kangean.

Sumenep merupakan kiblat dialek bahasa di Madura. Dialeknya lainnya merupakan dialek turunan yang hadir seiring berkembangnya waktu.

Sastra Madura

Setelah kita mengenal sedikit tentang bahasa daerah Madura, kini kita bahas seputar karya sastra Madura yang sudah terlupakan akibat gaya hidup yang menganggap menggunakan bahasa Indonesia adalah hal prestisius ketimbang bahasa daerah.

Sastra Madura penuh dengan gairah dalam memberikan kritik, pesan dan kesan moral. Hal ini karena karakter orang Madura yang keras dan sarat dengan prinsip. Sastra Madura berkembang bukan hanya di kalangan atas saja tetapi juga kalangan rakyat jelata.

Satra menjadi sarana mereka mengekspresikan dan menyampaikan gejolak hati, pesan moral dan agama. Kebanyakan karya-karya sastra Madura dipenuhi dengan ajaran-ajaran agama yang ketat dan motivasi.

Terdapat dua macam jenis satsra Madura, yaitu populis berarti dikenal oleh segenap lapisan masyarakat Madura dan partikularis, karya sastra yang hanya dikenal oleh segelintir lapisan masyarakat. Pertama-tama mari kita bahas tentang jenis karya sastra Madura populis.

Baca juga :  Rumpun Bahasa Batak

Jenis Sastra Madura

Karya sastra populis yang pertama adalah dhungngeng alias dongeng. Merupakan cerita rakyat yang mengandung pesan moral dan harapan yang sering di ceritakan oleh keluarga dan perkumpulan-perkumpulan.

Kedua adalah syi’ir alias sya’ir. Berisi tentang kata-kata indah membentuk kalimat berirama. Biasa di bacakan pada pesantren-pesantren, pernikahan dan taklim.

Karya sastra syi’ir Madura tersusun atas 4 baris. Setiap barisnya selalu berakhiran dengan huruf a, sehingga membentuk pola a – a – a – a – a. Isi syi’ir Madura sarat dengan nilai-nilai agama seperti cerita tentang siksa kubur, kisah para nabi, agama, akhlak dan sebagainya.

Selanjutnya adalah jenis partikularis. Jenis ini tidak umum diperdengarkan maka disebut juga sastra arkais. Adapun macam sastra partikularis adalah bangsalan, saloka, puisi dan pantun Madura, paparegan dan tembhang.

Bangsalan, ungkapan sastra yang dirangkai secara tidak langsung. Kalimat ini terdiri dari 3 unsur, yakni bangsalan, teggesa dan oca’ panebbus.

Karya sastra bangsalan ini biasanya hanya di ketahui oleh yang memiliki darah murni Madura saja. Karena hanya merekalah yang dapat memahaminya.

Puisi Pantun Madura, dikenal juga dengan nama sendhilan. Digunakan sebagai bentuk komunikasi bahasa Madura dengan menggunakan pantun atau paparegan. Biasanya dilafalkan antara laki-laki dan perempuan.

Pantun dalam sastra Madura terdiri dari 4 jenis, yaitu Pantun agama yang berisi pesan dan ajaran agama. Pantun plenggiran berisi kalimat-kalimat humoris nan jenaka.

Pantun sekaseyan berisi kalimat-kalimat roman digunakan oleh muda mudi yang sedang kasmaran. Pantun baburugan berisi tentang nasehat yang mengandung aturan, akhlak dan ajaran budi pekerti.

Paparegan biasa digunakan masyarakat Madura untuk member nasehat. Terdiri dari paparegan dengan dua baris dan paparegan dengan 4 baris.

Paparegan 4 baris memiliki bentuk hampir mirip dengan pantun. Bedanya pantun ditentukan dari ketukan/ suku kata, sedangkan paparegan tidak.

Saloka, merupakan karya berisi petuah bijak dan bermakna. Sering disampaikan dalam banyak acara di Madura. Tulisan karya sastra ini telah banyak dibuktikan sehingga pembacanya yakin akan kebenarannya.

Tembhang, merupakan karya sastra yang mirip dengan syi’ir biasa di baca dalam acara pernikahan. Tembhang dibaca oleh dua orang bahkan bisa lebih dalam semalam.

Tembhang Madura terdiri dari 3 jenis, yaitu Tembhang  Macapat, Tembhang Raja dan Tembhang Tengnga’an.

Baca juga : Bahasa Banjar dan Sejarahnya

Carakan Madura

Bahasa daerah Madura juga memiliki aksara tradisional yang disebut carakan Madura atau aksara Jaba atau aksara Jaban. Dahulu penyebutan aksara tradisional ini disamakan dengan aksara Jawa.

Karena status wilayah Madura yang menjadi wilayah kekuasaan kerjaan Mataram. Namun kini carakan telah ditetapkan sendiri menjadi aksara tradisional Madura.

Dalam membaca dan menulis carakan Madura, kita harus hafal aksara gajang yang tidak diberi imbuhan berjumlah 20 macam.

Setelah itu kita pahami aksara gajang yang diberi imbuhan sebanyak 12 macam. Dalam menulis carakan Madura bisa ditulis halus tebal tipis dengan tegak ataupun miring.

Dalam carakan Madura tidak ada huruf Fa, Ha, Za, maka penggantinya terdapat aksara rekaan. Setelah itu selesai di pahami maka selanjutnya yang perlu dipelajari dalam belajar carakan Madura adalah pemberian pasangan dhampengan dan gantongan.

Bahasa daerah adalah tanda dari keberagaman budaya Indonesia. Meskipun sudah ada bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan namun bahasa daerah tidak bisa dilupakan begitu saja.

Karena sebelum kehadiran bahasa Indonesia, yang bisa menyatukan orang-orang daerah ketika melawan penjajah adalah bahasa daerah.

Baca juga : Belajar Bahasa Bali

Oleh karena itu, penting sekali melestarikan dan mempelajari aksara lama dan bahasa-bahasa daerah, khususnya bahasa Madura dengan cara menghadirkannya dalam mata pelajaran muatan lokal di jenjang SD, SMP dan SMA.

Leave a Comment