Bahasa Banjar

Aneka Fakta Menarik Seputar Bahasa Banjar Terbaru 2020

Bahasa Banjar dan Sejarahnya– Sebagaimana bahasa daerah yang membantu Indonesia meraih kemerdekaan. Seperti itulah Jong Borneo bisa menggerakkan pemuda-pemuda daerahnya.

Berbicara tentang Borneo ingatan kita pasti menuju suku Banjar di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kota ini memiliki bahasa Banjar sebagai alat komunikasi.

Bahasa yang ditutur oleh suku etnis Banjar ini merupakan bahasa pergaulan sehari-hari.

Bahasa daerah ini sering dikait-kaitkan dengan lokasinya yang berada di kota Banjarmasin atau kabupaten Banjar Martapura, atau kota administratif Banjarbaru.

Karena bahasa ini adalah bahas lisan maka dibuatlah suatu tradisi bernama Tradisi Lisan.

Tradisi ini dipengaruhi oleh budaya Arab, Cina dan Melayu. Kesenian tradisi ini diantaranya berbentuk Madihin dan Lamut.

Madihin dalam bahasa Arab berarti madah yang artinya pujian. Madihin adalah puisi rakyat yang bertujuan untuk menghibur.

Sedangkan Lamut adalah tradisi mendongeng berisi tentang ajaran, nilai dan pesan sosial, budaya dan keagamaan Banjar.

Lamut sendiri merupakan tradisi Cina yang dibawa oleh pedagang-pedagang kemudian diserap ke dalam bahasa suku Banjar.

Tahukah ternyata bahasa lisan ini memiliki keunikan tersendiri? Ini dia ulasannya.

Bahasa Banjar dan Sejarahnya

Hanya Ada Dua Tingkatan

Berbeda dengan bahasa lainnya, bahasa daerah Banjar ini hanya memiliki dua tingkatan kalimat walau telah dipengaruhi oleh bahasa Jawa yang memiliki tiga tingkatan kalimat.

Sebelum kesultanan Banjar dihapuskan. Suku Banjar mengenal tingkatan dalam kebahasaannya, yakni bahasa netral dan bahasa dalam.

Bahasa dalam adalah bahasa halus yang biasa digunakan di dalam istana.

Baca juga: Bahasa Sunda

Memiliki Dua Dialek

Bahasa suku Banjar memiliki dua jenis dialek yaitu dialek Banjar Hulu dan dialek Banjar Kuala.

Dialek Banjar Hulu, digunakan oleh masyarakat Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Kabupaten Tabalong, Kabupaten Tapin dan Balangan.

Dialek Banjar Kuala, digunakan suku Banjar bagian Kabupaten Banjar, Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Tanah Laut, Kotabaru, Tanah Bumbu, Kabupaten Barito Kuala.

Dialek ini sebagian besar sudah membaur hampir mirip dengan bahasa Indonesia. Perbedaan dialek ini terletak pada kosakata, huruf vokal dan pelafalan.

Dialek Banjar Hulu Tidak Mengenal Huruf Vokal E dan O

Dialek Banjar Hulupun tidak mengenal vokal E dan O. Dialek ini hanya menggunakan huruf vokal A, I, dan U saja.

Dialek Banjar Hulu menggunakan kosakata yang jarang diucapkan dialek Banjar Kuala.

Pelafalan dialek Banjar Hulu juga cepat sehingga membingungkan orang luar suku Banjar.

Bahasa Suku Banjar Dulu Menggunakan Aksara Arab

Bahasa Banjar adalah bahasa lisan, maka dari itu ia tidak memiliki aksara.

Sebelum mengenal bahasa Indonesia masyarakat Kalimantan menggunakan bahasa Melayu Banjar dalam aksara Arab untuk kebutuhan literasi.

Naskah kuno seperti syair, puisi dan karya sastra lain yang dibuat Siti Zubaidah, Hikayat Banjar dan Tutur Candi menggunakan aksara Arab gundul versi Banjar.

Baca juga: Bahasa Bali

Termasuk Dalam Lingua Franca

Lingua franca artinya bahasa pengantar pada suatu tempat yang memiliki bahasa yang berbeda-beda. Karena termasuk dalam lingua franca.

Bahasa daerah yang semula hanya diperuntukkan suku Banjar menjadi bahasa pengantar antara suku di Kalimantan.

Bahasa Banjar Punya Bahasa Gaul

Kalau Jakarta punya kata Lo dan Gue, bahasa Betawi yang menjadi bahasa gaul nasional. Suku Banjar tak mau kalah. Mereka punya Unda (aku) dan Nyawa (kamu).

Kosakata ini adalah kosakata yang umum diucapkan oleh muda mudi usia 15-25 tahun di sana.

Kosakata ini juga digunakan untuk menyatakan keintiman penuturnya.

Unda nyawa hanya boleh dituturkan oleh mereka yang sederajat status sosialnya atau komunikasi satu arah antara yang status sosialnya tinggi ke yang status sosialnya rendah.

Contohnya adalah komunikasi satu arah ayah ke anaknya, dan sebagainya.

Menggeser Bahasa Lokal Lainnya

Masih dalam pengaruh lingua franca. Bahasa daerah suku Banjar ini telah menggeser bahas lokal lainnya seperti bahasa Kumai, bahasa Samarinda dan lainnya.

Akibat lain dari pergeseran bahasa ini membuat bahasa suku Banjar dilafalkan dengan logat masing-masing daerah.

Seperti bahasa Banjar yang jumpai dengan logat Dayak Maanyan pada kota Tamiang Layang.

Baca juga: Bahasa Palembang

Bahasa Banjar dan Sejarahnya Digunakan oleh Sebagian Masyarakat di Malaysia

Karena letaknya yang berdekatan dengan wilayah Malaysia maka bahasa suku Banjar ini sering juga digunakan di Malaysia.

Maksudnya oleh suku Banjar yang bermukim di Malaysia seperti di Mukim Kecamatan Kuala Kurau, daerah Kabupaten Kerian, Negeri Perak Darul Ridzuan dan lainnya.

Bahasa Banjar dan Sejarahnya Berasal dari Bahasa Purba

Ternyata bahasa suku Banjar berasal dari bahasa purba Proto Austronesia lebih tepatnya Austronesia Sulung.

Proto Austronesia sendiri berarti rekonstruksi bahasa nusantara purba yang juga mengilhami terbentuknya bahasa Jawa, Sumatra, Kalimantan dan lain-lain.

Bahasa Banjar Serapan dari Bahasa Belanda dan Portugis

Beberapa bahasa Banjar memiliki kemiripan dengan bahasa Belanda dan Portugis.

Ini karena Kalimantan dekat dengan selat Malaka dimana banyak pedagang jalur sutra singgah.

Contoh kosakata serapan dari bahasa Belanda adalah karcis, onderdil, anduk dan sebagainya. Contoh kata serapan dari bahasa Portugis adalah bandira, mantiga, kamija dan lainnya.

Ternyata banyak fakta dibalik bahasa daerah asli suku Banjar. Dengan begini kita lebih tau mengenai seluk beluknya.

Ragam fakta ini diulas supaya kita lebih bangga untuk melestarikannya. Bukankah bahasa daerah adalah identitas diri yang kuat?

Sayangnya kini bahasa daerah Banjar sedikit demi sedikit mulai tergerus oleh bahasa nasional Indonesia.

Penutur yang paling menggerus bahasa daerah ini adalah kalangan pedagang dan remaja.

Penggunaan gawai di kalangan remaja membuat mereka lebih menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa daerah jika berbicara dengan lawannya yang berasal dari suku seberang.

Selain itu mereka cenderung bangga menggunakan bahasa Indonesia demi menghindari penggunaan bahasa daerah yang terkesan medok. Ini karena logat yang medok dianggap kuno.

Sedangkan pada pedagang pergeseran terjadi karena transaksi perniagaan mereka dengan pendatang.

Sehingga mau tidak mau mereka harus menggunakan bahasa Indonesia. Dari sini juga bisa dilihat bahwa Kalimantan sangat terbuka terhadap perubahan sehingga sangat mudah dipengaruhi.

Tidaklah diakui keberadaan suatu etnis apabila bahasa aslinya mulai punah.

Untuk itu pada tahun ini sebanyak 600 kata dalam bahasa daerah Banjar diusulkan menjadi kata nasional.

Ini bertujuan agar masyarakat tidak malu menggunakan bahasa asli Banjar dan bahasa ini tetap lestari.

Alternatif lain untuk melestarikan budaya bahasa ini adalah dengan membuat kamus Banjar-Indonesia.

Dengan demikian baik kosakata-kosakata yang masih dipakai atau yang telah punah sekalipun bisa terdokumentasikan dengan baik.

Pembuatan kamus Banjar-Indonesia ini juga berguna bagi keberlangsungan muatan lokal yang telah diajarkan di berbagai sekolah di Kalimantan Selatan.

Selain untuk mendokumentasikan, kamus ini juga berfungsi sebagai rujukan dalam Bahasa Indonesia.

Pembuatan kamus demi melestarikan bahasa ini juga bertujuan supaya tidak ada lagi bahasa Indonesia yang di Banjarkan.

Contohnya saja kata terjatuh dalam bahasa Indonesia yang di Banjarkan menjadi tajatuh. Padahal bahasa Banjarnya terjatuh adalah tagugur.

Seperti yang sudah dikatakan di awal bahwa bahasa Banjar adalah bahasa lisan. Jika tidak digunakan maka akan tumpul. Untuk itu kita harus terus menggunakannya supaya bahasa etnis ini tidak musnah.

Bahasa Banjar dan Sejarahnya

Leave a Comment